Posted in GTK, Sekolah

Cetak Kartu NUPTK

Oleh : Restu Ahmad (https://www.blogger.com/profile/11043644982692827370)

Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) merupakan Nomor Induk bagi seorang Guru atau Tenaga Kependidikan (GTK). NUPTK diberikan kepada seluruh GTK baik PNS maupun Non-PNS yang memenuhi persyaratan dan ketentuan sesuai dengan surat Direktur Jenderal GTK sebagai Nomor Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan. 

NUPTK terdiri dari 16 angka yang bersifat unik dan tetap. NUPTK yang dimiliki seorang GTK tidak akan berubah meskipun yang bersangkutan telah berpindah tempat mengajar, perubahan riwayat status kepegawaian dan atau terjadi perubahan data lainnya.
Saat ini NUPTK sangat penting mengingat Juknis Bos Tahun 2020 hanya memperbolehkan membayar gaji guru Honor sekolah untuk yang sudah mempunyai NUPTK saja . oleh karena itu agar memudahkan pelaporan maka harus melampirkan bukti kepemilikan NUPTK salah satunya dengan Kartu NUPTK . dikarenakan saat ini belum ada situs resmi untuk mencetak Kartu NUPTK saya berinisiatif mempermudah untuk melakukan pembuatan Kartu NUPTK. 
Untuk Cetak Kartu NUPTK Versi 2 ini sudah terdapat QRCode yang berisi data NUPTK dan Nama Pemilik NUPTK.

Cetak Kartu

Sumber : https://opsbukal.blogspot.com/2020/03/cetak-kartu-nuptk-versi-2.html

Posted in GTK, Sekolah

Berbagi Artikel Refleksi Pembelajaran (RPP) Berhadiah Paket Data 30 GB

Lengkapi Profil Anda

Kabar Gembira! Sekarang Kontributor dapat mengakses Fitur Buat Artikel, serta berkesempatan mendapatkan hadiah berupa Paket Data 30Gb berlaku selama 3 bulan bagi 10.000 Kontributor dengan Artikel Refleksi paling menarik.

Ketentuan Teknis

  1. Telah mengunggah RPP yang menjadi dasar refleksi.
  2. Jumlah kata dalam artikel minimal 300 kata dan maksimal 1000 kata.
  3. Artikel berupa refleksi pembelajaran atau praktik baik pengelolaan pembelajaran secara daring ataupun luring.
  4. Setelah klik SIMPAN, maka Artikel Anda akan berstatus DRAF.
  5. Klik Ajukan, untuk mengajukan ke Kurator Mapel terkait.
  6. Artikel Anda akan muncul di situs portal apabila telah disetujui oleh admin, dengan sebelumnya melalui mekanisme kurasi oleh pihak yang berkompeten.

Artikel Refleksi

  1. Judul artikel menarik dan menggambarkan isi artikel
  2. Menceritakan pengalaman pembelajaran berkaitan dengan RPP yang diunggah.
  3. Refleksi pembelajaran yang dilakukan, misalnya keunggulan atau catatan penting dalam melaksanakan pembelajaran tersebut.
  4. Dilengkapi dengan respon/tanggapan siswa atau pihak yang terlibat dalam pembelajaran yang dilakukan.

Ketentuan Lain-Lain

  1. Tidak memuat unsur SARA dan intoleransi.
  2. Tidak mengandung unsur pornografi.
  3. Bukan merupakan hasil plagiasi dari karya orang lain.
  4. Jika anda memasukan foto wajah murid ke dalam Artikel anda, pastikan anda sudah meminta izin pada anak dan orang tuanya.
  5. Konten Artikel yang dikirimkan adalah sepenuhnya tanggung jawab pengguna
  6. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berhak membatalkan penayangan artikel yang tidak sesuai ketentuan.

Unduh SOP Berbagi Artikel


Ketentuan Teknis

  1. File dibuat dalam bentuk PDF.
  2. Nama file Rencana Pembelajaran_judul_kelas.
  3. Ukuran file maksimal 2MB.
  4. Hal-hal yang perlu disertakan dalam file yang akan diunggah:
    • Nama pembuat Rencana Pembelajaran.
    • Nama Sekolah/Instansi pembuat Rencana Pembelajaran.
    • Surel pembuat Rencana Pembelajaran.
    • Rencana Pembelajaran untuk jenjang dan kelas.
    • Topik Rencana Pembelajaran

Format dan isi Rencana Pembelajaran

  1. Isi rencana pembelajaran fokus pada pembelajaran jarak jauh.
  2. Guru-guru diberikan kebebasan untuk menentukan format rencana pembelajaran, namun perlu berisi.
  3. Hal-hal yang perlu disertakan dalam file yang akan diunggah:
    • Tujuan belajar
    • Penilaian
    • Strategi/aktivitas pembelajaran

Ketentuan – ketentuan lain

  1. Disarankan ada aktivitas yang kontekstual dengan kondisi rumah dan lingkungan sekitar.
  2. Disarankan ada 1-3 asesmen formatif selama proses pembelajaran.
  3. Proses komunikasi dua arah.
  4. Mencantumkan asal sumber belajar.
  5. Disarankan membuat penjelasan dan instruksi belajar yang spesifik dan rinci.
  6. Disarankan tidak hanya menggunakan satu strategi atau keiatan yang monoton.
  7. Tidak memuat unsur SARA dan intoleransi.
  8. Tidak plagiat karya orang lain.
  9. Jika anda memasukan foto wajah murid ke dalam RPP anda, pastikan anda sudah meminta izin pada anak dan orang tuanya.
  10. Konten RPP yang dikirimkan adalah sepenuhnya tanggung jawab pengguna.
  11. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berhak menurunkan RPP yang terverifikasi tidak sesuai ketentuan.

SOP Berbagi RPP

Sumber: https://guruberbagi.kemdikbud.go.id/

Bagaimana Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surat?

Membaca basmalah atau bismillah merupakan aktivitas yang dianjurkan, utamanya bagi seorang qariโ€™ yang hendak membaca Al-Qurโ€™an. Bahkan dalam salah satu riwayat hadits Nabi menegaskan bahwa bagi orang yang meninggalkan membaca basmalah dalam suatu aktivitas kebaikan, maka akan berkurang barokahnya.

Para ulama qiraโ€™at sepakat menetapkan membaca basmalah untuk mengawali bacaan Al-Qurโ€™an pada awal surat kecuali Surat Al-Taubah. Penetapan membaca basmalah pada awal surat adalah karena mengikuti petunjuk penulisan mushaf dan bertabarruk dengan dengan asma Allah. Sayyidah Aisyah berkata: โ€œbacalah Al-Qurโ€™an sesuai yang tertera dalam mushaf.โ€ (Makki bin Abi Thalib Al-Qisiy, Al-Kasyfu โ€˜an Wujuh Al-Qiraโ€™at Al-Sabโ€™I wa Ilaliha wa Hujajiha, Beirut: Muassasah Al-Risalah, 1997. hlm 15.ย 

Adapun membaca basmalah di antara dua surat atau yang lebih populer dengan sebutan โ€œal-jamโ€™ baina al-suratainโ€, menyambung antara dua surat, para ulama qiraโ€™at bebeda pendapat. Perbedaan ini dapat diklasifikasi ke dalam tiga pendapat: (1) menetapkan bacaan basmalah, (2) meninggalkan bacaan basmalah, (3) menetapkan sekaligus meninggalkan bacaan basmalah. (Abdul Fattah Al-Qadhiy, Abdul Fattah, Al-Buduruzzahirah fi Al-Qiraโ€™at Al-Asyrah Al-Mutawatirah, Bairut: Dar Al-Kitab Al-Arabiy, tt. hlm 13)ย 

Pertama, Imam Qalun, Imam Ibnu Katsir, Imam Ashim, Imam Ali Al-Kisaโ€™I, dan Imam Abi Jaโ€™far menyambung antara dua surat dengan basmalah. Adapun cara menyambung basmalah di antara dua surat ini adalah sebagai berikut :ย 

1. Berhenti pada setiap ayat, atau tidak menyambung akhir surat, basmalah dan awal ayat surat. Metode ini dikenal dalam ilmu qiraโ€™at dengan โ€œQatโ€™a Al-Jamiโ€™.โ€ Berikut contohnya: ย 

2. Berhenti di akhir surat dan menyambung basmalah dengan awal surat. Metode ini dalam ilmu qiraโ€™aโ€™t dikenal dengan โ€œQatโ€™u Al-Awal wa Washl Al-Tsaniy.โ€ Berikut contohnya:

3. Menyambung akhir surat yang pertama dengan awal surat yang kedua tanpa berhenti, namun tetap membaca basmalah. Metode ini dalam ilmu qiraโ€™at dikenal dengan โ€œWash Al-jamiโ€™.โ€ Berikut contohnya:

Ketiga metode di atas, berlaku dan dapat dioprasionalkan, baik pada surat yang berurutan, seperti surat Ali Imran dengan surat Al-Nisaโ€™, atau pada surat yang tidak berurutan, seperti akhir surat Al-Fatihah dengan surat Al-Maidah. (Abdul Fattah โ€˜Ajamiy Al-Murshifiy, Hidayat Al-Qariโ€™ Ila Tajwid Kalam Al-Bariyโ€™, Al-Madinah Al-Munawwarah: Maktabah Thoyyibah, tth), hlm, 569. Sementara menyambung antara akhir surat dan basmalah, dan memulai awal surat berikutnya tidak diperbolehkan, karena basmalah bukan akhir dari surat dan supaya terhindar dari persangkaan bahwa basmalah termasuk akhir surat.

Kedua, Imam Hamzah Al-Zayyat dan Imam Khalaf memilih menyambung antara dua surat dengan metode โ€œwashalโ€ tanpa basmalah, yaitu menyambung akhir kata pada surat pertama dengan awal kata pada surat berikutnya tanpa basmalah. Menurutnya, seluruh Al-Qurโ€™an adalah satu kesatuan. Jadi tidak perlu untuk membaca basmalah bila menyambung antara dua surat. Sebab penulisan basmalah dalam sebuah mushaf tidak lain hanyalah sebagai pertanda berakhirnya sebuah surat.

Ketiga, Imam Warsy, Abi Amr, Ibnu Amir danย  Yaโ€™kub Al-Hadramiy menyambung antara dua surat dengan tiga varian; 1) menyambung antara dua surat dengan basmalah (dengan tiga metode pertama), 2) menyambung tanpa basmalah dengan metode โ€œwashalโ€ (seperti bacaan Imam Hamzah dan Khalaf) , 3) menyambung dua surat dengan metode โ€œsakt.โ€ Yang dimaksud dengan โ€œsaktโ€ adalah berhenti sejenak di akhir surat tanpa menarik nafas kira-kira dua ketukan kemudian melanjutkan pada awal surat berikutnya tanpa basmalah.

Tiga varian bacaan di atas, dapat dioprasionalkan pada surat yang berurutan seperti surat Al-Baqarah dengan surat Ali Imran, atau tidak berurutan, seperti surat Al-Aโ€™raf dengan surat Yusuf dengan catatan surat yang kedua merupakan surat selanjutnya pada surat pertama sesuai urutan mushaf.

Apabila menyambung antara dua surat yang tidak beraturan sesuai urutan mushaf, seperti menyambung antara surat Al-Raโ€™d dengan awal surat Yunus, atau surat Al-Nas dengan surat Al-Fatihah, maka dalam hal ini harus disambung dengan bacaan basmalah. Tidak boleh menggunakan metode โ€œwashalโ€ maupun โ€œsakt.โ€ Demikian pula, harus disambung dengan bacaan basmalah apabila seseorang membaca satu surat yang diulang-ulang, seperti mengulang-ulang bacaan surat Al-Ikhlas.

Demikian itu merupakan tata cara menyambung antara dua surat menurut ulama qiraโ€™at. Bacaan dan tata cara ini merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, baik yang membaca basmalah atau meninggalkannya.

Imam Ali Al-Dhabbaโ€™ menegaskan bahwa perbedaan bacaan antara membaca basmalah atau meninggalkannya merupakan bagian dari tujuh huruf. Sebab bacaan ini diturunkan berulang-ulang, kadang diturunkan dengan basmalah kadang tanpa basmalah. Kedua-duanya adalah bacaan yang sahih dan mutawatir. Barang siapa yang membaca dengan basmalah, maka bacaan itu adalah sahih dan mutawatir hingga sampai kepada kita, dan barang siapa yang tidak membaca basmalah, maka bacaan itu juga sahih dan mutawatir hingga sampai kepada kita. (Al-Dhabbaโ€™, Al-Idhaโ€™at fi Ushul Al-Qiraโ€™at, Mesir: Al-Maktabah Al-Azhariyah li Al-Turats,1999) hlm 9.

Oleh karena itu, dengan mengetahui dan memahami varian bacaan; antara membaca basmalah dan meninggalkannya, maka kita menjadi tahu betapa luas perbedaan bacaan dalam Al-Qurโ€™an. Perbedaan itu mengajarkan kepada kita untuk toleran dan moderat dalam segala hal.

Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qiraโ€™at, Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjoย 

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/95736/bagaimana-cara-membaca-basmalah-di-antara-dua-surat

Posted in Sejarah

Kisah Syeikh As-Syadzili Orang yang Pertama Kali Menemukan Kopi

Rusman Siregar

Kisah safarnya seorang muslim selalu tak terlepas dari kopi, kemana pun orang muslim menyebarkan agamanya, kopi selalu dibawa.

Namun sekarang, kopi bukan hanya minuman para wali atau mu’allim saja. Minuman khas ini sudah dinikmati semua orang dari berbagai agama dan lapisan. Tak heran jika hari ini 1 Oktober 2019 seluruh dunia merayakan ‘Hari Kopi Sedunia’.

Kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara di dunia. Lalu, siapa sebenarnya penemu kopi ini?

Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Husainy Al-Hadramy dari marga Alaydrus (1070 H-1113 H) dalam kitabnya ‘Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qohwah’ mengatakan, biji kopi baru ditemukan akhir abad ke-8 Hijriyah di Yaman oleh Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili bin Umar bin Ibrahim bin Abi Hudaimah Muhammad bin Abdullah bin Al-Faqih Muhammad Disa’in. Nasabnya bersambung hingga kepada sahabat bernama Kholid bin Asad bin Abil Ish bin Umayyah Al-Akbar bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay.

Informasi dari ‘Madras Ribath’ menyebutkan, beliau adalah pengikut tarekat Syadziliyah, bukan pendirinya. Karena pendiri tharekat/thoriqoh Syadziliyah, Al-Imam Qutb Sayyidina Abi Hasan Asy-Syadzili bin Abdullah bin Abdul Jabbar Al-Hasani Asy- Syadziliyi RA bersambung Nasab kepada Rasululah SAW telah wafat pada tahun 828 H.

Dalam penemuan biji kopi, Imam Abul Hasan Asy-Syadzili mendahului Imam Abu Bakr Al-Aydrus. Sehingga Imam Abul Hasan adalah penemu biji kopi. Sedangkan Imam Abu Bakr Al-Aydrus adalah penyebar kopi di berbagai tempat.

Beliau menggubah syair mengenai kopi sebagai berikut: “Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati denganNya, kopi membantuku mengusir kantuk. Dengan pertolongan Allah Ta’ala, kopi menggiatkanku taat beribadah kepadaNya di kala orang-orang sedang terlelap.”

Qahwah (kopi): Qof’ adalah quut (makanan), Ha’ adalah hudaa (petunjuk), Wawu’ adalah wud (cinta) dan ‘ha’ adalah hiyam (pengusir kantuk). Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia.

Biji kopi berasal dari tanah Arab dan kata kopi sendiri berasal dari bahasa Arab “Qahwah” yang berarti kekuatan. Karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi.

Kata Qahwah kemudian menjadi populer di Eropa sebagai ‘Kahfeh’ yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian berubah lagi menjadi “Koffie” dalam bahasa Belanda. Penggunaan kata koffie inilah yang diserap ke dalam bahasa Indonesia hingga menjadi kata kopi yang kita kenal saat ini.

Kisah Penemuan Kopi
Syeikh Ali bin Umar As-Syadzili Al-Yamani di Indonesia dikenal sebagai Syeikh Abul Hasan As-Syadzili. Kisah penemuan kopi pertama kali berawal dari perjalanan beliau.
Dikisahkan, ketika beliau dalam perjalanan untuk uzlah dan khalwat (mengasingkan diri) dari segala hiruk pikuk dunia, beliau terus berjalan sepanjang hari. Saat malam hari datang, beliau tiba di suatu daerah yang memiliki pepohononan lebat. Tempat itu juga dipenuhi dengan binatang liar dan buas.

Maka Imam As-Syadzili memutuskan untuk memanjat suatu pohon yang tinggi untuk menghidari serangan binatang buas. Ketika sampai di atas, beliau menemukan pohon dipenuhi dengan buah-buahan yang berupa biji-bijian kecil. Lalu beliau memetiknya dan memakannya.

Anehnya, setelah itu beliau tidak merasakan kantuk sama sekali sepanjang malam. Saat pagi menjelang, beliau mengambil kembali beberapa dari biji-biji tersebut untuk dimakan di dalam perjalanannya, dengan tujuan menghilangkan rasa kantuk.

Ketika biji-biji itu mulai kering, beliau tidak langsung memakannya, melainkan memanggangnya terlebih dahulu di atas api. Kemudian menyeduhnya dengan air dan meminum air seduhan tersebut. Akhirnya menyebarlah minuman kopi ke berbagai penjuru negeri.

Setelah sekian lama minuman kopi dikenal di bumi Arab, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai hukumnya. Beberapa ulama berpendapat tentang keharaman kopi dan sebagian mereka menghalalkannya.

Perbedaan ini terus berlanjut hingga terjadi perdebatan serius antarulama dan fitnahpun beredar di negeri Syam. Lantas hal itu dihentikan oleh Syekh Abdul Ghoni An-Nabulisi dengan berfatwa akan kehalalannya lalu beliau bersyair dengan dua bait syair: “Biji kopi itu halal, sungguh mereka para pelarang telah melarangnya. Bagaimana bisa mereka menyatakan hal itu haram sedangkan aku meminumnya.”

Akhirnya pendapat Syekh Abdul Ghani itu dikuatkan oleh seorang ulama yang bermimpi bertemu Baginda Rasulullah SAW. Dalam mimpinya, beliau menanyakan perihal perkara kopi itu kepada Nabi. Bagaimana hukumnya? Rasulullah SAW menjawab: “Malaikat akan terus senantiasa memintakan ampun bagi si peminum kopi selama aroma rasa kopi tersebut masih tersisa di mulutnya.” Allahu A’lam.

Imam Najmuddin Al-Ghozzi berkata dalam kitab al-Kawaqib As-Syairah Fi A’yan al-Miah al-A’syiroh bahwa Orang yang pertama kali menjadikan kebiasaan minum kopi sebagai minuman berkhasiat adalah Habib Abi Bakr Bin Abdullah Alaydrus (Shohibul Rotib Qubro Al-Aydrus). Beliau membuat racikan kopi dari buah pohon bun.

Para ahli sejarah menyebutkan, abad ke-13 kopi menyebar ke Afrika Utara, negara-negara Mediterania dan India. Pada abad 14 dan 15, budaya minum kopi menyebar di Turki, Mesir, Syiria, Persia. Sedangkan di Indonesia, sejarah kopi tidak lepas dari masuknya Belanda yang membudidayakan tanaman kopi pada tahun 1696-1706.

Wallahu A’lam bisshowab

Sumber: https://sumut.sindonews.com/berita/4611/1/kisah-syeikh-as-syadzili-orang-yang-pertama-kali-menemukan-kopi

https://www.newsyemen.net/new/44885

Posted in Doa

Doa Paham Ilmu KH Maโ€™shum Lasem, Dibaca Sebelum Belajar

Menimba ilmu merupakan kegiatan utama, bahkan dalam banyak riwayat disebut menduduki posisi lebih tinggi dibanding aktivitas ritual ibadah biasa. Variasi cara mencari ilmu cukup banyak, mulai dari aktif duduk di bangku sekolah, menyimak majelis pengajian, terlibat dalam forum bahtsul masail, hingga membaca buku/kitab secara mandiri.

Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi (wafat 797 M), sebagaimana dikutip dari Ihyรข โ€˜Ulรปmiddรฎn karya Imam al-Ghazali, mengatakan, โ€œSeseorang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itu ia bodoh.โ€ Artinya, pengetahuan manusia tak akan pernah purna, dan karena itu ia niscaya mesti belajar dan berproses terus menerus, sepanjang hayat (minal mahdi ilal lahdi).

Salah satu hal yang amat penting dari sederet aktivitas belajar itu adalah pemahaman. Orang bisa saja rutin mendatangi forum-forum pembelajaran, rajin menyimak ceramah, menumpuk ribuan informasi dari hasil bacaannya, tapi apakah pengetahuan yang masuk sanggup dipahami dengan baik? Itulah sebabnya sebagian orang berpendapat bahwa orang yang banyak tahu belum tentu sudah mengerti.

Mengerti atau paham adalah sebuah anugerah Allah subhanahu wataโ€˜ala. Ia muncul bisa lantaran ilham, juga proses ikhtiar kita yang sungguh-sungguh. Karena anugerah, penting pula kita memanjatkan doa agar diberi kemudahan dalam memperoleh pemahaman itu.

Berikut adalah doa untuk memperoleh pemahaman yang dikutip dari kitab Majmรปโ€˜รขh Maqrรปรขt Yaumiyyah wa Usbรปโ€˜iyyah karangan KH Muhammad bin Abdullah Faqih. Doa yang dianjurkan dibaca sebelum mengaji atau belajar ini diperoleh dari KH Ali Maโ€™shum Lasem yang kemudian diijazahkan oleh KH Abdullah Faqih (Allah yarham), Pengasuh Pondok Pesantren Langitan.

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงุฑู’ุฒูู‚ู’ู†ูŽุง ููŽู‡ู’ู…ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุญููู’ุธูŽ ุงู’ู„ู…ูŽุฑู’ุณูŽู„ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุฅูู„ู’ู‡ูŽุงู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูู‚ูŽุฑูŽู‘ุจููŠู’ู†ูŽุŒ ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูŠูŽุงุฃูŽุฑู’ุญูŽู…ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุงุญูู…ููŠู’ู†ูŽ

Artinya: โ€œYa Allah, anugerahilah kami pemahaman para nabi, hafalan para rasul, dan ilhamnya para malaikat yang dekat (dengan-Mu), sebab kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Maha pengasih.โ€

Lafal tersebut bisa disambung dengan doa:

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฃูŽุบู’ู†ูู†ููŠ ุจุงูู„ู’ุนูู„ู’ู…ูุŒ ูˆูŽุฒูŽูŠูู‘ู†ูู‘ูŠู’ ุจูุงู„ู’ุญูู„ู’ู…ูุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุฑูู…ู’ู†ููŠู’ ุจูุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽุฌูŽู…ูู‘ู„ู’ู†ููŠู’ ุจูุงู„ู’ุนูŽุงูููŠูŽุฉูุŒ ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูŠูŽุงุฃูŽุฑู’ุญูŽู…ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุงุญูู…ููŠู’ู†ูŽ

Artinya: โ€œYa Allah, limpahi aku dengan ilmu, hiasi diriku dengan kesantunan, muliakan aku dengan takwa, dan perindah diriku dengan kesehatan, sebab kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Mahapengasih.โ€

Wallahu aโ€™lam. (Mahbib)

Sumber: https://islam.nu.or.id/

Posted in Hikmah

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-โ€˜Asham Berguru 30 Tahun

Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

ุทูŽู„ูŽุจู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ููŽุฑููŠุถูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู

โ€œMencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslimโ€ (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah taโ€™ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu โ€˜anhuma.

Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, โ€œBerapa lama engkau menemaniku?โ€

Hatim menjawab, โ€œTiga puluh tiga tahun.โ€

โ€œLalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?โ€ lanjut Syaqiq.

โ€œDelapan pengetahuan,โ€ jawab Hatim.

โ€œInna lillahi wa inna ilahi rajiโ€™un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,โ€ jawab Syaqiq keheranan.

โ€œWahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,โ€ Hatim meyakinkan.

โ€œSampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,โ€ lanjut Syaqiq.

Hatim berkata, โ€œAku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.โ€

โ€œBagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?โ€ sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, โ€œAku melihat firman Allah azza wa jalla:

ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุงููŽ ู…ูŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุฑูŽุจูู‘ู‡ู ูˆูŽู†ูŽู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ูู’ุณูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู‡ูŽูˆูŽู‰ุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ู‡ููŠูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ูˆูŽู‰

โ€œDan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).โ€ (QS. An-Naziโ€™at: 40 – 41).

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa taโ€™ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah taโ€™ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

ู…ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽูƒูู…ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุฏู ูˆูŽู…ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูŽุงู‚ู 

โ€œApa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.โ€(QS. An-Nahl: 96).

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah taโ€™ala:

ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ูŽูƒูู…ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุชู’ู‚ูŽุงูƒูู…ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ 

โ€œSesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.โ€(QS. al-Hujurat: 13).

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

ู†ูŽุญู’ู†ู ู‚ูŽุณูŽู…ู’ู†ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูŽุนููŠุดูŽุชูŽู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง

โ€œKami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.โ€(QS. Az-Zukhruf: 32).

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa taโ€™ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah taโ€™ala:

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุนูŽุฏููˆูŒู‘ ููŽุงุชูŽู‘ุฎูุฐููˆู‡ู ุนูŽุฏููˆู‹ู‘ุง

โ€œSesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).โ€(QS. Fathir: 6).

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah taโ€™ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

ang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah taโ€™ala:

ูˆูŽู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฏูŽุงุจูŽู‘ุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุฑูุฒู’ู‚ูู‡ูŽุง 

โ€œDan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.โ€(QS. Huud: 6).

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah taโ€™ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah taโ€™ala:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽูƒูŽู‘ู„ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุญูŽุณู’ุจูู‡ู

โ€œDan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.โ€ (QS. Ath-Thalaq: 3).

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.โ€

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, โ€œWahai Hatim, semoga Allah taโ€™ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qurโ€™an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.โ€

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu aโ€™lam. (Moh. Sibromulisi).

Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihyaโ€™ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 โ€“ 147.

Sumber:ย https://islam.nu.or.id/