
Jalan ini memang tak panjang, namun berkelok dan penuh kejutan. Terasa mudah dijalaninya namun dibutuhkan jiwa petualang untuk melewatinya. Jalan ini tidaklah lebar karena memang serba terbatas ruang geraknya. Terlihat sederhana namun rumit, atau sebaliknya, terlihat rumit namun sederhana. Panjangnya angan dan harapan takkan mampu mengisi setiap jengkal jalan yang dilalui.
Saat berjalan, nikmatilah suasana indah di sekelilingnya. Akan terasa jenuh jika harus fokus ke depan. Karena itu menjadi sebuah bumbu yang bisa menghangatkan dinginnya emosi. Pandangan lurus ke depan. Sesekali menengok kiri-kanan sebagai barometer apakah sudah pantas dan sesuai atau tidak. Jika belum sesuai dengan harapan maka berkacalah pada bayang wajahmu di cermin, siapa tahu terdapat noda yang tak bisa dilihat sendiri namun orang lain yang bisa.
Rehatlah sejenak jika menemukan nuansa teduh disana. Berfikir sejenak untuk merumuskan rute teraman untuk dilalui. Agar lelah yang selalui mengiringi akan menjadi pundi-pundi yang penuh arti. Sampaikanlah pada angin yang berdesir untuk membawa jauh kemelut yang selama ini menyelimuti. Katakan pada hujan untuk membawa jauh penderitaaan melalui percikannya yang jatuh ke bumi, untuk dialirkan menuju tempat terjauh.
Ingatlah bahwa apapun yang menghadang atau menerjang selama proses perjalanan singkat ini adalah sebuah rambu. Seperti pada lampu lalu lintas. ‘Hijau’ berarti maju, ‘Kuning’ berarti hati-hati atau siap-siap dan ‘merah’ berarti berhenti.
