
Senyuman-senyuman ini sungguh tak ternilai harganya. Senyum ketulusan yang terlahir dari sebuah niat untuk mengabdi pada Ilahi. (Sebenarnya tak perlu disebutkan juga niat dan tujuannya apa, takut menimbulkan riya. Namun ini hanya efek dramatisasi saja). Dan ini akan menjadi sebuah sejarah kecil yang mungkin saja bagi sebagian orang dianggap kurang berarti. Namun ini harus diberitakan, diukir dalam sebuah prasasti sebagai penanda bahwa kebersamaan adalah sebuah elemen penting atas jiwa-jiwa yang tandus, penerang dalam kegelapan, pelipur dalam kegalauan dan penyejuk dalam kekeringan.
Nampak jauh disana, sebuah fatamorgana yang hilang saat dihampiri. Terrekam dalam ingatan bahwa hal ini adalah semu. Kesemuan yang memuncak dan berujung dalam kesendirian yang pilu. “Nanar aku, gila sasar”. Itulah sekilas bait puisi karya Amir Hamzah yang menggambarkan telah buta arah. Dalam kesendirian mengandung unsur dilematis bagi sebagian orang. Beda halnya dengan para petapa atau yang berkholwat memiliki derajat tersendiri dalam kesendiriannya.
Wahai para pengabdi malam. Banyak terkuak misteri-misteri di dalamnya. Ada misteri perniagaan, ada misteri kehingar-bingaran, ada misteri pendekatan jiwa terhadap Rabb-nya yang semua itu tersimpan rapih untuk disibak tabirnya. Misteri manakah yang telah kau sibak tabirnya wahai para pengabdi malam. Kesesatan-kah? Perjuangan-kah? ataukah pemasrahan jiwa terhadap Sang Kholiq? Ini jalanmu dan ini jalanku. Sebuah proses yang bisa menghantarkan pada hasil yang diridhai atau tidaknya oleh Sang Kholiq. Cermin dari sebuah pengabdian atau pengingkaran. Hingga diri ini lemah dan tak berdaya, menjadikan kebersamaan kecil kami ini sebagai saksi sejarah atas segala tindak-tanduk yang sepadan atau tidaknya.
Kenanglah hari ini dengan senyuman kebersamaan wahai kawan seperjuangan. Kita tercipta untuk saling melengkapi arti kebersamaan. Kebersamaan yang mampu menghantarkan pada ketentraman kehidupan duniawi dan ukhrowi.
