Category: Coretan
Keep Strong Dearest Dad.

Dalam Heningku

Marhaban Ya Ramadhan 1441 H
Libur… Libur… !
Libur… Libur… !
Libur bukan berarti tidur
Namun untuk bertafakkur
Bersyukur
Ataupun bertadabbur
Hingga semua menjadi makmur
Jauh dari kata kufur
Ini semua karena sebuah udzur
Agar jiwa dan raga tidak luntur
Bersikaplah lentur
Agar tidak terbentur
Ataupun takabbur
Hingga hidup makmur
Semua hal sudah diatur
Oleh dzat yang Maha Ghoffur
Tidak ada istilah tersungkur
Apalagi tidak akur
Yang dijaga adalah tutur
Agar tidak mawur
Tetap bergerak jangan sampai kendur
Karena pada akhirnya semua akan dilebur
Badan kaku terbujur
Berselimut kain kafan masuk ke kubur
Berpikir tanpa Belajar

Dalam terang butuh pandangan
Saat khilaf mulai menghadang
Perlu biang yang cukup sepadan
Andaikan semua ilmu dituliskan
Maka tak akan cukup alat tuk menuliskannya
Seandainya kamu penasaran
Maka akan timbul sekat tuk mewujudkannya
Ilmu itu pasti
Pikir itu mungkin
Dengan berilmu bisa mengetahui
Dengan berpikir bisa menyalin
Belajarlah baru berpikir
Mencari kepastian bukan kemungkinan
Kejarlah hingga hari akhir
Indah kemudian tak ada jaminan
Sepandai-pandainya tupai melompat
Pasti akan jatuh juga
Berandai-andai bisa sebabkan terjerat
Jika tidak dihiasi ilmu yang tepat guna
Terlahir untuk mencari
Mati untuk dimintai
Menaksir bukan hal pasti
Berbakti agar dicintai
Bekal

Pahit tak seperti empedu
Wajah sinis memang menggoda
Berakibat sakit dan juga pilu
Walau angin datang berhembus
Menjalar menembus kulit
Saat ingin kian merakus
Tak sadar bahwa itu adalah penyakit
Siang berganti malam
Pagi berganti petang
Rasa riang tak akan pernah padam
Jika diri rajin sembahyang
Nilai cukup harus dibina dengan segera
Kekal abadi tak akan pelik
Bekal hidup adalah budi dan harta
Bekal mati adalah amal baik
Raih semua dengan ilmu dan amal
Ridho ilahi tak akan gusar
Tak ada rupa semu dan termarjinal
Satu yang pasti tak akan samar
Dan doa adalah senjata
Untuk berperang dan meraih cita
Alunan rasa menuju sempurna
Batin mengerang jiwa merdeka
Rambu Perjalanan

Jalan ini memang tak panjang, namun berkelok dan penuh kejutan. Terasa mudah dijalaninya namun dibutuhkan jiwa petualang untuk melewatinya. Jalan ini tidaklah lebar karena memang serba terbatas ruang geraknya. Terlihat sederhana namun rumit, atau sebaliknya, terlihat rumit namun sederhana. Panjangnya angan dan harapan takkan mampu mengisi setiap jengkal jalan yang dilalui.
Saat berjalan, nikmatilah suasana indah di sekelilingnya. Akan terasa jenuh jika harus fokus ke depan. Karena itu menjadi sebuah bumbu yang bisa menghangatkan dinginnya emosi. Pandangan lurus ke depan. Sesekali menengok kiri-kanan sebagai barometer apakah sudah pantas dan sesuai atau tidak. Jika belum sesuai dengan harapan maka berkacalah pada bayang wajahmu di cermin, siapa tahu terdapat noda yang tak bisa dilihat sendiri namun orang lain yang bisa.
Rehatlah sejenak jika menemukan nuansa teduh disana. Berfikir sejenak untuk merumuskan rute teraman untuk dilalui. Agar lelah yang selalui mengiringi akan menjadi pundi-pundi yang penuh arti. Sampaikanlah pada angin yang berdesir untuk membawa jauh kemelut yang selama ini menyelimuti. Katakan pada hujan untuk membawa jauh penderitaaan melalui percikannya yang jatuh ke bumi, untuk dialirkan menuju tempat terjauh.
Ingatlah bahwa apapun yang menghadang atau menerjang selama proses perjalanan singkat ini adalah sebuah rambu. Seperti pada lampu lalu lintas. ‘Hijau’ berarti maju, ‘Kuning’ berarti hati-hati atau siap-siap dan ‘merah’ berarti berhenti.
Kebersamaan Kecil

Senyuman-senyuman ini sungguh tak ternilai harganya. Senyum ketulusan yang terlahir dari sebuah niat untuk mengabdi pada Ilahi. (Sebenarnya tak perlu disebutkan juga niat dan tujuannya apa, takut menimbulkan riya. Namun ini hanya efek dramatisasi saja). Dan ini akan menjadi sebuah sejarah kecil yang mungkin saja bagi sebagian orang dianggap kurang berarti. Namun ini harus diberitakan, diukir dalam sebuah prasasti sebagai penanda bahwa kebersamaan adalah sebuah elemen penting atas jiwa-jiwa yang tandus, penerang dalam kegelapan, pelipur dalam kegalauan dan penyejuk dalam kekeringan.
Nampak jauh disana, sebuah fatamorgana yang hilang saat dihampiri. Terrekam dalam ingatan bahwa hal ini adalah semu. Kesemuan yang memuncak dan berujung dalam kesendirian yang pilu. “Nanar aku, gila sasar”. Itulah sekilas bait puisi karya Amir Hamzah yang menggambarkan telah buta arah. Dalam kesendirian mengandung unsur dilematis bagi sebagian orang. Beda halnya dengan para petapa atau yang berkholwat memiliki derajat tersendiri dalam kesendiriannya.
Wahai para pengabdi malam. Banyak terkuak misteri-misteri di dalamnya. Ada misteri perniagaan, ada misteri kehingar-bingaran, ada misteri pendekatan jiwa terhadap Rabb-nya yang semua itu tersimpan rapih untuk disibak tabirnya. Misteri manakah yang telah kau sibak tabirnya wahai para pengabdi malam. Kesesatan-kah? Perjuangan-kah? ataukah pemasrahan jiwa terhadap Sang Kholiq? Ini jalanmu dan ini jalanku. Sebuah proses yang bisa menghantarkan pada hasil yang diridhai atau tidaknya oleh Sang Kholiq. Cermin dari sebuah pengabdian atau pengingkaran. Hingga diri ini lemah dan tak berdaya, menjadikan kebersamaan kecil kami ini sebagai saksi sejarah atas segala tindak-tanduk yang sepadan atau tidaknya.
Kenanglah hari ini dengan senyuman kebersamaan wahai kawan seperjuangan. Kita tercipta untuk saling melengkapi arti kebersamaan. Kebersamaan yang mampu menghantarkan pada ketentraman kehidupan duniawi dan ukhrowi.
Penantian

Hal terpenting apakah yang sedang kau nanti? Tentu saja hal ini membuatmu harap-harap cemas. Cemas yang dinanti tak kunjung datang. Atau cemas atas ketidaksabaran datangnya yang dinanti itu. Disadari atau tidak, keingintahuan akan sesuatu hal adalah kodrat alamiah manusia. Dengannya kau bisa berkarya, menyatukan serpihan-serpihan imajinasi dan logika untuk dijadikan satu hingga melahirkan sebuah karya yang fenomenal; menghadirkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba”. Sebuah peribahasa yang mendramatisir penantian yang terjalin. Menjadikan alunan indah tersendiri yang mampu membius segala kewaswasan. Dan ini adalah puncak emasnya. Puncak dimana sesuatu yang baru menjadi idola. Karena yang baru itu memiliki dimensi kesegaran. Kesegaran dalam arti pemenuhan hasrat. Hasrat untuk menghilangkan rasa jenuh, hasrat untuk memperbaharui dawai hati. Hati yang kusam telah tergantikan dengan hati yang berpoleskan semir yang mengkilat. Walaupun mungkin terdapat kepalsuan di dalamnya, namun sejenak hati itu akan terasa muda kembali sehangat pancaran mentari pagi yang membawa kehidupan baru.
Tak usah kau risaukan sebuah penantian. Karena cepat atau lambat, ia akan menghampirimu sebagai kekasih yang merindumu. Hal ini akanlah indah pada waktunya secara semestinya. Adapun kewaswasan yang menyelimuti diri adalah simbol dari sebuah kerakusan pada manusia.
