
Langkah ini tak akan terhenti selama jantungku masih berdegup. Banyak peluang, banyak kesempatan di depan sana menanti. Bagiku, tak ada yang namanya penantian panjang, yang ada hanyalah perjalanan panjang untuk ditapaki; bukan untuk dinanti. Karena penantian hanya akan menimbulkan kejenuhan, dan kejenuhan bisa menghambat aliran darah, menimbulkan kebekuan dan menurunkan sensor kepekaan.
Aku sempat bertanya dalam diri mengapa kita harus bergerak maju? Mengapa kita harus berdiam diri? Mungkin itu adalah pertanyaan konyol yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Namun terkadang secara sadar atau tidak, kekonyolan itu akan datang sebagai refleksi hati. Hati yang beku, hati yang tak menentu hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa hati itu perlu dipanaskan, disirami oleh kehangatan kasih sayang dan pelipur lara. Hingga hilanglah pemberontakan, yang tersisa tinggallah keselarasan.
Sore ini aku menikmati senja. Diiringi nyanyian alam yang membius telingaku. Indah rasanya, elok rupanya, sejuk aromanya dan redup cahayanya. Hati tak menentu pun secara spontan kian terarah, mengisi sendi-sendi kekosongan di dalam fikiranku yang membutuhkan nutrisi untuk menjadikan langkah kakiku terarah. Ya, aku membutuhkan sebuah dimensi lain agar semua bisa berjalan sesuai porosnya. Sebuah dimensi yang bisa mengarahkan fikiran yang liar. Sebuah dimensi yang bisa membalut luka. Sebuah dimensi yang bisa menerobos alam bawah sadar agar bisa selalu terjaga. Ternyata, dimensi yang kubutuhkan ini adalah dimensi alam yang tidak perlu diperintah untuk menggerakkannya. Sesuatu yang alamiah, yang pengendaliannya tidak memerlukan campur tangan manusia.
Ini adalah sebuah rumus kehidupan. Rumus tentang bagaimana cara menerima. Rumus tentang bagaimana cara memberi. Dan rumus bagaimana cara melestarikan; bukan mengendalikan. Karena jalan masih panjang. Tak selamanya jalan akan lurus dan datar. Ada kalanya berkelok, ada kalanya menanjak dan menurun. Dan itu adalah jawaban dari bagaimana menjalankan rumus kehidupan. Maka bergeraklah jika tidak tahu caranya diam. Dan diamlah jika tidak tahu caranya bergerak.
Cariu, 27 Januari 2020
