Posted in Coretan

Umur

Seiring dengan bertambahnya usia, maka secara otomatis jatah usia pun berkurang. Berkurangnya jatah usia adalah sebuah lompatan menuju pembaharuan. Yang tadinya tidak mampu menjadi mampu. Yang tadinya mahir menjadi tak kuasa. Melucuti keinginan yang tertunda, untuk didaur ulang agar lulus verifikasi.

Terasa atau tidak, ilmu pasti tentang usia adalah adalah kepastian itu sendiri. Tidak ada jeda dalam menjalankannya, sambung-menyambung terus menerus, hingga mengkristal atau memudar. Menuju satu titik yang tak bisa dibantahkan keberadaannya, menyelam hingga palung terdalam, untuk diambil hikmahnya ataupun tujuannya. Ada yang menghasilkan marjan ataupun terumbu karang; yang masing-masing terdapat manfaat di dalamnya tetapi dengan nilai yang berbeda.

Jauh dari kata rumit atau pelik. Umur memang berjalan seperti adanya. Tak perlu dipelajari karena pasti akan datang menghampiri. Sejauh mata memandang atau sekilas tatapan mata, hasilnya akan sama dalam menjalaninya. Yang membedakan adalah sebentar dan lamanya, pendek dan panjangnya. Tak bisa memuai karena proses pemanasan dan tak bisa menyusut karena proses pendinginan. Namun umur akan berjalan sesuai relnya masing-masing.

Bilakah tiba waktunya, umur akan menghilang seperti angin. Pergi menjauh dari kebisingan dan kerumitan empunya menuju sang penciptanya untuk didaur ulang dan disuling atas perannya di dunia, yang nampak kasat mata dan tak bisa diindera namum keberadaannya bisa menentukan masa depannya. Masa depan yang indah nan megah atau masa depan yang diliputi keterpurukan.

Biarkanlah umur mengalir seperlunya, terbebas dari ikatan prasangka dan praduga yang tidak beralasan. Menghiasi jiwa raga yang penuh tuntunan dan mendasar, berjibaku dengan kepentingan-kepentingan yang sudah diakui kebenaran dan keberadaannya. Hingga umur pun akan menjadi saksi atas keberadaannya. Sehingga umur pun bisa menuntun kepada jalan kebahagian yang damai dan jauh dari hiruk pikuk kebencian.

Tanjungsari, 22 Oktober 2019

Leave a comment