
Disini kuhanya bisa menatap paras anggunmu dari kejauhan. Melalui sebuah foto yang tersemat di dalam gawaiku. Apa yang bisa kuperbuat? Setelah sekian lama Engkau telah memperjuangkanku, mengasihiku, membimbingku, menasihatiku, memperkenalkanku pada dunia fana ini. Senyumanmu adalah obat bagiku, penawar rasa rinduku. Hingga aku bisa menjelajah seperti sekarang ini, dan mengetahui bahwa hidup ini sungguhlah sebuah perjuangan. Perjuangan tanpa henti agar terbebas dari segala macam keterpurukan.
Ayah, seandainya aku ingin membalas jasa-jasamu, maka seisi dunia ini pun jika kuberikan kepadamu sungguh tak terbalaskan. Hanya doa terbaik yang bisa kubalaskan untukmu. Apalah artinya diriku jika tak bisa membalas budi baikmu. Pengabdianku selama ini rasanya tak layak untuk kupersembahkan kepadamu. Baktiku selama ini memang tidak sepadan dengan semua pengorbananmu. Maafkan atas semua kekhilafanku, keteledoranku. Mungkin saja banyak kekesalan yang ingin engkau tumpahkan kepadaku namun engkau tidak menumpahkannya, sebaliknya kau ganti dengan senyuman terhangat dan rangkulan kebahagiaan sebagai pertanda bahwa engkau benar-benar menyayangiku dengan sepenuh hati.
Seandainya situasi ini yang dibalik jika aku harus merawat dan memanjakanmu. Rasa-rasanya aku tak mampu menggapai seperti apa yang telah kau lakukan padaku. Mungkin diri ini teramat lemah untuk bisa mewujudkannya. Diri ini terlalu banyak diliputi dosa yang menyebabkan tertutupnya sinyal-sinyal kebaikan akan diriku untuk bisa ditransfer bagi yang lainnya. Namu aku tak menyerah. Usaha terbaik akan kulakukan untuk menggapai ridhomu. Semoga usahaku tak akan sia-sia, walaupun jauh dari kesempurnaan.
Ayah, terimalah aku apa adanya. Kerinduanku sungguh mendalam padamu. Walaupun jarak memisahkan kita, tak setiap saat aku akan selalu ada untukmu, tak setiap detik aku bisa menemani hari-hari tuamu. Namun aku selalu mendambamu, dengan segenap tenaga dan pikiran, aku akan selalu berusaha ada untukmu dan aku masih membutuhkan bimbinganmu.
Tanjungsari, 29 Januari 2020
