
Hal terpenting apakah yang sedang kau nanti? Tentu saja hal ini membuatmu harap-harap cemas. Cemas yang dinanti tak kunjung datang. Atau cemas atas ketidaksabaran datangnya yang dinanti itu. Disadari atau tidak, keingintahuan akan sesuatu hal adalah kodrat alamiah manusia. Dengannya kau bisa berkarya, menyatukan serpihan-serpihan imajinasi dan logika untuk dijadikan satu hingga melahirkan sebuah karya yang fenomenal; menghadirkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba”. Sebuah peribahasa yang mendramatisir penantian yang terjalin. Menjadikan alunan indah tersendiri yang mampu membius segala kewaswasan. Dan ini adalah puncak emasnya. Puncak dimana sesuatu yang baru menjadi idola. Karena yang baru itu memiliki dimensi kesegaran. Kesegaran dalam arti pemenuhan hasrat. Hasrat untuk menghilangkan rasa jenuh, hasrat untuk memperbaharui dawai hati. Hati yang kusam telah tergantikan dengan hati yang berpoleskan semir yang mengkilat. Walaupun mungkin terdapat kepalsuan di dalamnya, namun sejenak hati itu akan terasa muda kembali sehangat pancaran mentari pagi yang membawa kehidupan baru.
Tak usah kau risaukan sebuah penantian. Karena cepat atau lambat, ia akan menghampirimu sebagai kekasih yang merindumu. Hal ini akanlah indah pada waktunya secara semestinya. Adapun kewaswasan yang menyelimuti diri adalah simbol dari sebuah kerakusan pada manusia.
