Posted in Coretan

Ayah

Disini kuhanya bisa menatap paras anggunmu dari kejauhan. Melalui sebuah foto yang tersemat di dalam gawaiku. Apa yang bisa kuperbuat? Setelah sekian lama Engkau telah memperjuangkanku, mengasihiku, membimbingku, menasihatiku, memperkenalkanku pada dunia fana ini. Senyumanmu adalah obat bagiku, penawar rasa rinduku. Hingga aku bisa menjelajah seperti sekarang ini, dan mengetahui bahwa hidup ini sungguhlah sebuah perjuangan. Perjuangan tanpa henti agar terbebas dari segala macam keterpurukan.

Ayah, seandainya aku ingin membalas jasa-jasamu, maka seisi dunia ini pun jika kuberikan kepadamu sungguh tak terbalaskan. Hanya doa terbaik yang bisa kubalaskan untukmu. Apalah artinya diriku jika tak bisa membalas budi baikmu. Pengabdianku selama ini rasanya tak layak untuk kupersembahkan kepadamu. Baktiku selama ini memang tidak sepadan dengan semua pengorbananmu. Maafkan atas semua kekhilafanku, keteledoranku. Mungkin saja banyak kekesalan yang ingin engkau tumpahkan kepadaku namun engkau tidak menumpahkannya, sebaliknya kau ganti dengan senyuman terhangat dan rangkulan kebahagiaan sebagai pertanda bahwa engkau benar-benar menyayangiku dengan sepenuh hati.

Seandainya situasi ini yang dibalik jika aku harus merawat dan memanjakanmu. Rasa-rasanya aku tak mampu menggapai seperti apa yang telah kau lakukan padaku. Mungkin diri ini teramat lemah untuk bisa mewujudkannya. Diri ini terlalu banyak diliputi dosa yang menyebabkan tertutupnya sinyal-sinyal kebaikan akan diriku untuk bisa ditransfer bagi yang lainnya. Namu aku tak menyerah. Usaha terbaik akan kulakukan untuk menggapai ridhomu. Semoga usahaku tak akan sia-sia, walaupun jauh dari kesempurnaan.

Ayah, terimalah aku apa adanya. Kerinduanku sungguh mendalam padamu. Walaupun jarak memisahkan kita, tak setiap saat aku akan selalu ada untukmu, tak setiap detik aku bisa menemani hari-hari tuamu. Namun aku selalu mendambamu, dengan segenap tenaga dan pikiran, aku akan selalu berusaha ada untukmu dan aku masih membutuhkan bimbinganmu.

Tanjungsari, 29 Januari 2020

Posted in Coretan

Umur

Seiring dengan bertambahnya usia, maka secara otomatis jatah usia pun berkurang. Berkurangnya jatah usia adalah sebuah lompatan menuju pembaharuan. Yang tadinya tidak mampu menjadi mampu. Yang tadinya mahir menjadi tak kuasa. Melucuti keinginan yang tertunda, untuk didaur ulang agar lulus verifikasi.

Terasa atau tidak, ilmu pasti tentang usia adalah adalah kepastian itu sendiri. Tidak ada jeda dalam menjalankannya, sambung-menyambung terus menerus, hingga mengkristal atau memudar. Menuju satu titik yang tak bisa dibantahkan keberadaannya, menyelam hingga palung terdalam, untuk diambil hikmahnya ataupun tujuannya. Ada yang menghasilkan marjan ataupun terumbu karang; yang masing-masing terdapat manfaat di dalamnya tetapi dengan nilai yang berbeda.

Jauh dari kata rumit atau pelik. Umur memang berjalan seperti adanya. Tak perlu dipelajari karena pasti akan datang menghampiri. Sejauh mata memandang atau sekilas tatapan mata, hasilnya akan sama dalam menjalaninya. Yang membedakan adalah sebentar dan lamanya, pendek dan panjangnya. Tak bisa memuai karena proses pemanasan dan tak bisa menyusut karena proses pendinginan. Namun umur akan berjalan sesuai relnya masing-masing.

Bilakah tiba waktunya, umur akan menghilang seperti angin. Pergi menjauh dari kebisingan dan kerumitan empunya menuju sang penciptanya untuk didaur ulang dan disuling atas perannya di dunia, yang nampak kasat mata dan tak bisa diindera namum keberadaannya bisa menentukan masa depannya. Masa depan yang indah nan megah atau masa depan yang diliputi keterpurukan.

Biarkanlah umur mengalir seperlunya, terbebas dari ikatan prasangka dan praduga yang tidak beralasan. Menghiasi jiwa raga yang penuh tuntunan dan mendasar, berjibaku dengan kepentingan-kepentingan yang sudah diakui kebenaran dan keberadaannya. Hingga umur pun akan menjadi saksi atas keberadaannya. Sehingga umur pun bisa menuntun kepada jalan kebahagian yang damai dan jauh dari hiruk pikuk kebencian.

Tanjungsari, 22 Oktober 2019

Posted in Coretan

Remaja

Sesekali kucoba untuk menghentikan langkahku untuk tidak memikirkan apa yang ada di dalam isi kepalaku. Kutertuju dan terpukau akan hebat dan dahsyatnya sebuah proses pertumbuhan. Pertumbuhan berarti perubahan, perubahan yang tidak menyeluruh dengan tidak menghilangkan jati dirinya.

Ada banyak fase yang bisa digali untuk menaklukkan kerumitan-kerumitan dalam proses pertumbuhan. Salah satunya di usia setengah matang. Usia yang memang rentan, usia penuh gejolak, usia penentu sikap. Sikap untuk bercabang, sikap untuk menjulang, sikap untuk membumi yang sulit untuk disibak tabir emasnya, tabir keunggulannya dan tabir hatinya.

Ini dan itu pun akan terngiang di pikirannya untuk merasa tertantang mencobanya, menguji nyali, menentukan sikap, merebut hal terpelik dalam pikirannya, terlebih membabi buta untuk menandai zonasinya. Saat itu pun keraguan akan datang menyelimuti, mencoba melemahkan sinyal-sinyal kemanusiaannya, mengisolir hati nuraninya, sehingga meluaplah gelora binalnya. Antara anjlok dan terpuruk sudah tidak ada bedanya. Antara terjaga dan terlelap sudah tidak bisa dibedakan.

Namun semua tak sama. Dalam proses pertumbuhan ada pula perkembangan. Berkembang secara fisik, berkembang secara naluri, berkembang secara memori, berkembang secara kreasi dan berkembang secara inderawi. Itu semua akan menepiskan elemen-elemen liar yang bersarang di dalam benaknya. Benak sebagai cikal-bakal seorang pemimpin. Namun jiwanya harus dipupuk dengan keadilan, dengan cinta kasih, dengan keilmuan dan diberikan finishing logika dan naluri. Naluri religi, naluri akhlak dan naluri ion positif.

Kenanglah dirimu saat ini wahai para remaja. Karena mengenang masa lalu tak bisa diedit. Mengenang masa ini mengandung arti bahwa apa yang akan diperbuat akan senantiasa berlandaskan logika dan naluri. Tidak sia-sia, tidak urakan dan tidak akan menjadi perdebatan. Masa ini adalah masa emasmu. Masa yang paling berharga untuk menyongsong hari tua. Tak bisa kembali, tak bisa diulang, hanya saat ini.

Sukamakmur, 19 Januari 2020

Posted in Coretan

Diam dan Bergerak

Langkah ini tak akan terhenti selama jantungku masih berdegup. Banyak peluang, banyak kesempatan di depan sana menanti. Bagiku, tak ada yang namanya penantian panjang, yang ada hanyalah perjalanan panjang untuk ditapaki; bukan untuk dinanti. Karena penantian hanya akan menimbulkan kejenuhan, dan kejenuhan bisa menghambat aliran darah, menimbulkan kebekuan dan menurunkan sensor kepekaan.

Aku sempat bertanya dalam diri mengapa kita harus bergerak maju? Mengapa kita harus berdiam diri? Mungkin itu adalah pertanyaan konyol yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Namun terkadang secara sadar atau tidak, kekonyolan itu akan datang sebagai refleksi hati. Hati yang beku, hati yang tak menentu hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa hati itu perlu dipanaskan, disirami oleh kehangatan kasih sayang dan pelipur lara. Hingga hilanglah pemberontakan, yang tersisa tinggallah keselarasan.

Sore ini aku menikmati senja. Diiringi nyanyian alam yang membius telingaku. Indah rasanya, elok rupanya, sejuk aromanya dan redup cahayanya. Hati tak menentu pun secara spontan kian terarah, mengisi sendi-sendi kekosongan di dalam fikiranku yang membutuhkan nutrisi untuk menjadikan langkah kakiku terarah. Ya, aku membutuhkan sebuah dimensi lain agar semua bisa berjalan sesuai porosnya. Sebuah dimensi yang bisa mengarahkan fikiran yang liar. Sebuah dimensi yang bisa membalut luka. Sebuah dimensi yang bisa menerobos alam bawah sadar agar bisa selalu terjaga. Ternyata, dimensi yang kubutuhkan ini adalah dimensi alam yang tidak perlu diperintah untuk menggerakkannya. Sesuatu yang alamiah, yang pengendaliannya tidak memerlukan campur tangan manusia.

Ini adalah sebuah rumus kehidupan. Rumus tentang bagaimana cara menerima. Rumus tentang bagaimana cara memberi. Dan rumus bagaimana cara melestarikan; bukan mengendalikan. Karena jalan masih panjang. Tak selamanya jalan akan lurus dan datar. Ada kalanya berkelok, ada kalanya menanjak dan menurun. Dan itu adalah jawaban dari bagaimana menjalankan rumus kehidupan. Maka bergeraklah jika tidak tahu caranya diam. Dan diamlah jika tidak tahu caranya bergerak.

Cariu, 27 Januari 2020

Posted in Coretan

Menyerah Saja

Ketika segala urusan harus dituntaskan, dalam tempo lambat ataupun cepat, keduanya memerlukan sebuah proses. Proses adalah serangkaian peristiwa yang harus dijalankan untuk terciptanya tujuan. Proses dapat terjadi secara alamiah ataupun melalui pengendalian. Berbagai urusan yang dikehendaki ataupun datang secara tidak pasti. Hasil akhir dari sebuah proses adalah hasil. Hasil pun bisa berujung berhasil ataupun gagal. Dan hal sulit dari sebuah hasil adalah lebih mudahnya menerima keberhasilan daripada kegagalan. Adapun kemampuan menerima kegagalan dengan lapang dada merupakan salah satu dari tanda tercapainya keberhasilan.

Ketika seseorang berencana, kemudian menjalaninya. Maka halang rintang pun akan secara tak diundang menghampiri. Menjadi bumbu tersendiri yang menghasilkan racikan yang bisa saja menjadikan rasa pahit. Naluri pun bertanya : “Akankah melanjutkannya atau meninggalkannya?”. Jika niatnya tulus dan tujuannya mulya maka ia akan dengan sangat mudah untuk menepisnya. Menjadikan bumbu tersendiri yang menghasilkan racikan yang bisa saja membuatnya manis.

Giat bekerja, terus berusaha dan mampu menerima keadaan apa adanya dengan penuh lapang dada. Tak menghitung berapa kegagalan menghampiri. Namun berjuang meminimalisir kegagalan. Karena sakit akan terobati, terbebas dari penyakit “menyerah”. Menyerah berarti pasrah, menyerah berarti musnah. Sementara roda harus berputar, gunung terjal harus didaki, lautan luas harus diarungi. Jika tidak, maka sirna lah harapan, hilang lah penantian dan kegelapan akan menghampiri.

Berat memang berat. Namun itulah perjuangan. Sesuatu yang akan berat akanlah menjadi ringan jika dijalani, diusahakan, dinikmati dan diakui. Haruskah kita menyerah pada keputusasaan? Silahkan, lakukanlah. Namun kita tidak akan mendapatkan sertifikat kelulusan, penghargaan atas upaya dan pengakuan bahwa kita layak menjadi pemenang.

Akuilah, bahwa kita terlahir sebagai pemenang. Dan pemenang tidak akan terlahir jika menyerah.

Posted in Coretan

Pandangan Hidup

Apa yang akan dan telah kita persiapkan untuk mengarungi kehidupan ini? Jawaban sederhananya adalah moril dan materil. Keduanya memiliki peran masing-masing yang tak bisa terpisahkan. Dengan moril, kita akan terlatih untuk memiliki mental yang siap menerobos belantara kehidupan dalam medan apapun. Dengan materil, mampu mewujudkan keinginan-keinginan bendawi untuk menunjang kehidupan.

Pandangan jauh ke depan, cita-cita terselubung yang terbersit di dalam hati kecil merupakan wujud dari keinginan setiap kita agar bisa terhindar dari peliknya badai kehidupan yang bisa menjerumuskan kepada jurang kenistaan; terlebih jurang kesesatan yang dalamnya tak terhingga.

Seringkali kita mempersiapkan segala sesuatu hal agar terwujudnya kenikmatan saat menjalani kehidupan di dunia. Namun sudahkah kita mempersiapkan segala sesuatu hal agar terwujudnya kenikmatan setelah kehidupan di dunia; yaitu kematian?

Tidak hanya kehidupan saja yang harus dipersiapkan, namun kematian pun harus dipersiapkan. Tidak cukup hanya dengan moril dan materil saja untuk mempersiapkannya, tapi harus dibarengi dengan nilai keimanan dan ketaqwaan sebagai penyempurna dalam mempersiapkan kematian.

Kehidupan adalah perjalanan. Perjalanan menuju kematian. Hingga pada akhirnya akan dihidupkan kembali untuk dimintai pertangung-jawabannya. Dalam pada itu, segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa menjadi baik ataupun bisa menjadi buruk. Adapun baik dan buruknya harus kita tentukan sekarang; saat ini saat menjalaninya; secara sadar ataupun tidak sadar.

Pandanglah terus ke depan, pandanglah disaat kita mampu memandangnya. Karena bila pandangan ini sirna, maka yang tersisa dari kita hanyalah tulang-belulang.

Posted in Coretan

Keluarga

Waktu pun kian bergulir. Salah satu Proses alamiah dan kodrat pada makhluk hidup yang akan menjadi tua dari awalnya muda; dari tidak ada menjadi ada. Hingga pada akhirnya akan kembali kepada Sang khaliq (Pencipta).
Manusia hadir di muka bumi ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan menjadikannya sebagai pemimpin untuk mengisi, mengatur dan mengendalikan seisi bumi ini dan segala manfaat yang ada di dalamnya.
Sudahkah kita menyadari bahwa semua anugerah yang telah Allah SWT. Berikan kepada manusia hanyalah berupa titipan semata. Anugerah harta, anugerah ilmu pengetahuan, anugerah keturunan dan anugerah-anugerah yang lainnya. Sudah barang tentu bahwa yang namanya titipan itu tidak bisa dimiliki. Kepemilikan suatu titipan adalah hak guna pakai. Boleh memakainya tetapi tidak ada hak untuk memilikinya.
Begitu pula dengan anugerah yang bernama keluarga. Setiap manusia yang terlahir di bumi ini akan difasilitasi melalui sebuah keluarga. Adapun setiap manusia memiliki variasi tersendiri dalam menerima dan menjalankan anugerah yang bernama keluarga ini. Adanya kebahagiaan, adanya keharmonisan, adanya kebersamaan, bahkan adanya perselihan pun akan menjadi warna tersendiri dalam menjalankan roda kekeluargaan ini.
Jalan manakah yang sudah kita tempuh dalam menjalankan roda kekeluargaan ini? Baik dan buruknya, manis dan pahitnya, suka dan dukanya sudah kita alami bersama. Hingga pada akhirnya akan mendapatkan predikat yang didamba yaitu keluarga yang sakinah, mawaddah, warrohmah.
Melalui tulisan ini akan menjadi self-reminder tersendiri bagi penyusun untuk menjadikan keluarga sebagai wadah untuk saling mengisi kekosongan, untuk saling memajukan, untuk saling mendoakan, untuk saling mengihibur, untuk saling bercengkrama, untuk saling memotivasi, untuk saling mengingatkan, untuk saling mengasihi, untuk saling mendukung dan terhindar dari saling memusuhi.